Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri tapi. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri tapi. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 November 2016

Mengapa Rumah Ekstremis Palestina Diratakan, Ekstremis...

Rumah tersangka penyerang asal Palestina dihancurkan aparat Israel. Foto / Haaretz / AP

TEL AVIV - Hakim Mahkamah Agung Israel mempertanyakan kebijakan negara dalam pencegahan terorisme dengan meratakan rumah ekstremis Palestina. Tapi, kebijakan itu tak berlaku bagi rumah ekstremis Yahudi Israel.

Sikap hakim Mahkamah Agung Israel itu muncul setelah kebijakan diskriminasi itu diajukan oleh Suha dan Hussein Abu Khdeir, orang tua dari remaja 16 tahun asal Palestina; Mohammed Abu Khdeir, yang dibunuh pada 2014 dalam serangan balas dendam atas penculikan dan pembunuhan tiga remaja Israel.

Pemerintah Israel berdalih perobohan rumah-rumah pelaku serangan asal Palestina sebagai pencegahan tindakan terorisme. Tapi keluarga Khdeir mempertanyakan mengapa hal yang sama tidak berlaku untuk orang-orang Yahudi Israel yang telah membunuh orang-orang Arab.

”Saya pikir jika mereka (Israel) tidak menghancurkan rumah-rumah mereka (ektremis), ini bukan negara demokratis,” kata Hussein Abu Khdeir kepada DW pada bulan Juli lalu. ”Ini adalah negara apartheid, negara rasis, Anda tidak bisa hidup di (sini).”

Kini, hakim dari Mahkamah Agung Israel setuju dengan argumen keluarga Khdeir. ”Apa bedanya dengan saya jika itu adalah seorang Arab atau Yahudi?,” tanya Hakim Mahkamah Agung Israel, Neal Hendel, seperti dikutip dari Ynetnews, Jumat (25/11/2016).

”Jika kita berkata bahwa kita siap untuk mempekerjakan kebijakan ini terhadap sekelompok orang tertentu dan tidak terhadap yang lain, ini menimbulkan masalah-masalah tertentu,” ujarnya.

”Dikatakan bahwa dalam masyarakat Arab ada lebih banyak pendukung (kebijakan) dan pencegahan akan jauh lebih kuat,” kata Elyakim Rubinstein, Wakil Ketua Mahkamah Agung Israel. ”Tapi tetap, karena ada ekstremis dalam masyarakat Yahudi yang telah melakukan hal-hal yang mengerikan, bahkan jika pencegahan dilakukan pada asumsi bahwa itu akan mempengaruhi sejumlah kecil orang, masih akan menyelamatkan nyawa,” imbuh dia, yang terkesan membela kebijakan pemerintah Israel.

Argumen yang sama disajikan di persidangan pada hari Senin. Namun, hal itu ditolak oleh hakim ketua, yang menyatakan bahwa pelestarian kehidupan manusia adalah prioritas pengadilan.

”Jika itu mungkin untuk mencegah satu pembunuhan melalui aksi pencegahan, mereka akan melakukannya setelah 20 serangan mematikan yang dilakukan?" tanya Hakim Zvi Zilbertal. ”Ketika kita berbicara tentang kehidupan manusia, itu bukan kuantitas yang penting.”

”Kalau bisa mencegah lima pembunuhan, maka dibenarkan,” imbuh hakim Hendel yang setuju dengan argumen Zilbertal. ”Ini akan dibenarkan jika dicegah bahkan satu insiden.”

dibaca 26.172x

"

| Mengapa | Rumah | Ekstremis | Palestina | Diratakan, | Ekstremis... | tersangka | penyerang | asal | dihancurkan | aparat | Israel. | Foto | Haaretz | AP TEL | AVIV | Hakim | Mahkamah | Agung | Israel | mempertanyakan | kebijakan | negara | dalam | pencegahan | terorisme | dengan | meratakan | rumah | ekstremis | Palestina. | Tapi, | berlaku | bagi | Yahudi | Israel.Sikap | hakim | muncul | setelah | diskriminasi | diajukan | oleh | Suha | Hussein | Khdeir, | orang | dari | remaja | tahun | Palestina; | Mohammed | yang | dibunuh | pada | 2014 | serangan | balas | dendam | atas | penculikan | pembunuhan | tiga | Israel.Pemerintah | berdalih | perobohan | rumah-rumah | pelaku | sebagai | tindakan | terorisme. | Tapi | keluarga | Khdeir | mengapa | sama | tidak | untuk | orang-orang | telah | membunuh | Arab.”Saya | pikir | jika | mereka | (Israel) | menghancurkan | (ektremis), | bukan | demokratis,” | kata | kepada | bulan | Juli | lalu. | ”Ini | adalah | apartheid, | rasis, | Anda | bisa | hidup | (sini).”Kini, | setuju | argumen | Khdeir. | ”Apa | bedanya | saya | seorang | Arab | atau | Yahudi?,” | tanya | Israel, | Neal | Hendel, | seperti | dikutip | Ynetnews, | Jumat | (25/11/2016).”Jika | kita | berkata | bahwa | siap | mempekerjakan | terhadap | sekelompok | tertentu | lain, | menimbulkan | masalah-masalah | tertentu,” | ujarnya.”Dikatakan | masyarakat | lebih | banyak | pendukung | (kebijakan) | akan | jauh | kuat,” | Elyakim | Rubinstein, | Wakil | Ketua | ”Tapi | tetap, | karena | melakukan | hal-hal | mengerikan, | bahkan | dilakukan | asumsi | mempengaruhi | sejumlah | kecil | orang, | masih | menyelamatkan | nyawa,” | imbuh | dia, | terkesan | membela | pemerintah | Israel.Argumen | disajikan | persidangan | hari | Senin. | Namun, | ditolak | ketua, | menyatakan | pelestarian | kehidupan | manusia | prioritas | pengadilan.”Jika | mungkin | mencegah | satu | melalui | aksi | pencegahan, | melakukannya | mematikan | dilakukan? | Zilbertal. | ”Ketika | berbicara | tentang | manusia, | kuantitas | penting.””Kalau | lima | pembunuhan, | maka | dibenarkan,” | Hendel | dibenarkan | dicegah | insiden.”dibaca | 26.172x |

Jumat, 02 Desember 2016

Cerita Peserta Aksi 212 Ibarat Berjihad di Palestina

'Kayak di Palestina rasanya. Takbir hujan-hujan, salat bersama.'

Diguyur Hujan Peserta Aksi 212 Tetap Khusu' Laksanakan Shalat Jumat (VIVA.co.id/M. Ali. Wafa)

VIVA.co.id â€" Aksi doa bersama dan gelar sajadah bersama di Monumen Nasional Jumat kemarin berjalan aman dan damai. Namun, masih sejumlah cerita di balik aksi damai 212 tersebut. 

Salah satunya, saat hujan deras mengiringi jutaan peserta aksi bela Islam III yang tengah melakukan salat Jumat. Ini menimbulkan rasa haru dan damai bagi para peserta. Beragam komentar pun bermunculan dari para pendemo usai Salat Jumat tersebut. 

Ada yang merasa berkah karena hujan, ada pula yang mengira hujan itu telah direkayasa oleh oknum-oknum yang tak suka dengan aksi tersebut. 

Salah satunya dari Rizky Maulana, warga asal Cikupa, Tangerang. Rizky justru merasa sangat antusias Salat di taman Monas meski diguyur hujan lebat. Lulusan Teknik Institut Teknologi Bandung itu mengaku seperti sedang jihad di negara konflik, Palestina. 

“Kayak di Palestina rasanya. Takbir hujan-hujan, salat bersama. Luar biasa berkah hujannya," ujar dia bersemangat.

Ditanya, pernahkah ke Palestina, pemuda 28 tahun itu langsung tertawa. "Ya belum lah, liat doang di Internet. Tapi ingin banget kalau ada duit ke sana," lanjut pria berbaju koko putih ini.

Berbeda lagi dengan komentar Muhammad Azami (40). Warga asal Lampung ini datang bersama dua orang kerabatnya. Dia mencurigai hujan di Monas sengaja diturunkan karena sudah direncanakan pihak tertentu. 

"Sudah ditaburin garam saya rasa sih, supaya banyak yang pulang. Tapi, lihat sendiri mereka bertahan. Semua sama-sama Salat Jumat di sini. Cuma kasihan aja ibu-ibu, anak kecil, banyak juga kan yang sudah tua ikut aksi," ujar Azami saat berbincang dengan VIVA.co.id.

 

(ren)

"

| Cerita | Peserta | Aksi | Ibarat | Berjihad | Palestina | Kayak | rasanya | Takbir | hujan | salat | bersama | p>Diguyur | Hujan | Tetap | Khusu | Laksan | Shalat | Jumat (VIVA | Wafa)< | strong>< | p> VIVA | strong> â€" Aksi | gelar | Monumen | Nasional | Jumat | kemarin | berjalan | aman | damai | Namun | masih | sejumlah | cerita di | balik | aksi | tersebut | span>< | p> Salah | satunya | saat | deras | mengiringi | jutaan | peserta | bela | Islam | yang | tengah | melakukan | menimbulkan | rasa | haru | bagi | para | Beragam | komentar | bermunculan | pendemo | usai | Salat | p> Ada | merasa | berkah | karena | pula | mengira | telah | direkayasa | oleh | oknum | suka | dengan | Rizky | Maulana | warga | asal | Cikupa | Tangerang | justru | sangat | antusias | taman | Monas | meski | diguyur | lebat | Lulusan | Teknik | Institut | Teknologi | Bandung | mengaku | seperti | jihad | negara | konflik | p> “Kayak | Luar | biasa | hujannya | ujar | bersemangat | p> Ditanya | pernahkah | pemuda | tahun | langsung | tertawa | liat | doang | Internet | Tapi | ingin | banget | kalau | duit | sana | lanjut | pria | berbaju | koko | putih | p> Berbeda | lagi | Muhammad | Azami | (40) | Warga | Lampung | datang | orang | kerabatnya | mencurigai | sengaja | diturunkan | direncan | pihak | tertentu | p> Sudah | ditaburin | garam | saya | supaya | banyak | pulang | lihat | sendiri | bertahan | Semua | sama | sini | Cuma | kasihan | anak | kecil | juga | ikut | berbincang | VIVA | p>  < | p> (ren)< | p> < | div> |

Cerita Peserta Aksi 212 Ibarat Berjihad di Palestina

'Kayak di Palestina rasanya. Takbir hujan-hujan, salat bersama.'

Diguyur Hujan Peserta Aksi 212 Tetap Khusu' Laksanakan Shalat Jumat (VIVA.co.id/M. Ali. Wafa)

VIVA.co.id â€" Aksi doa bersama dan gelar sajadah bersama di Monumen Nasional Jumat kemarin berjalan aman dan damai. Namun, masih sejumlah cerita di balik aksi damai 212 tersebut. 

Salah satunya, saat hujan deras mengiringi jutaan peserta aksi bela Islam III yang tengah melakukan salat Jumat. Ini menimbulkan rasa haru dan damai bagi para peserta. Beragam komentar pun bermunculan dari para pendemo usai Salat Jumat tersebut. 

Ada yang merasa berkah karena hujan, ada pula yang mengira hujan itu telah direkayasa oleh oknum-oknum yang tak suka dengan aksi tersebut. 

Salah satunya dari Rizky Maulana, warga asal Cikupa, Tangerang. Rizky justru merasa sangat antusias Salat di taman Monas meski diguyur hujan lebat. Lulusan Teknik Institut Teknologi Bandung itu mengaku seperti sedang jihad di negara konflik, Palestina. 

“Kayak di Palestina rasanya. Takbir hujan-hujan, salat bersama. Luar biasa berkah hujannya," ujar dia bersemangat.

Ditanya, pernahkah ke Palestina, pemuda 28 tahun itu langsung tertawa. "Ya belum lah, liat doang di Internet. Tapi ingin banget kalau ada duit ke sana," lanjut pria berbaju koko putih ini.

Berbeda lagi dengan komentar Muhammad Azami (40). Warga asal Lampung ini datang bersama dua orang kerabatnya. Dia mencurigai hujan di Monas sengaja diturunkan karena sudah direncanakan pihak tertentu. 

"Sudah ditaburin garam saya rasa sih, supaya banyak yang pulang. Tapi, lihat sendiri mereka bertahan. Semua sama-sama Salat Jumat di sini. Cuma kasihan aja ibu-ibu, anak kecil, banyak juga kan yang sudah tua ikut aksi," ujar Azami saat berbincang dengan VIVA.co.id.

 

(ren)

"

| Cerita | Peserta | Aksi | Ibarat | Berjihad | Palestina | Kayak | rasanya | Takbir | hujan | salat | bersama | p>Diguyur | Hujan | Tetap | Khusu | Laksan | Shalat | Jumat (VIVA | Wafa)< | strong>< | p> VIVA | strong> â€" Aksi | gelar | Monumen | Nasional | Jumat | kemarin | berjalan | aman | damai | Namun | masih | sejumlah | cerita di | balik | aksi | tersebut | span>< | p> Salah | satunya | saat | deras | mengiringi | jutaan | peserta | bela | Islam | yang | tengah | melakukan | menimbulkan | rasa | haru | bagi | para | Beragam | komentar | bermunculan | pendemo | usai | Salat | p> Ada | merasa | berkah | karena | pula | mengira | telah | direkayasa | oleh | oknum | suka | dengan | Rizky | Maulana | warga | asal | Cikupa | Tangerang | justru | sangat | antusias | taman | Monas | meski | diguyur | lebat | Lulusan | Teknik | Institut | Teknologi | Bandung | mengaku | seperti | jihad | negara | konflik | p> “Kayak | Luar | biasa | hujannya | ujar | bersemangat | p> Ditanya | pernahkah | pemuda | tahun | langsung | tertawa | liat | doang | Internet | Tapi | ingin | banget | kalau | duit | sana | lanjut | pria | berbaju | koko | putih | p> Berbeda | lagi | Muhammad | Azami | (40) | Warga | Lampung | datang | orang | kerabatnya | mencurigai | sengaja | diturunkan | direncan | pihak | tertentu | p> Sudah | ditaburin | garam | saya | supaya | banyak | pulang | lihat | sendiri | bertahan | Semua | sama | sini | Cuma | kasihan | anak | kecil | juga | ikut | berbincang | VIVA | p>  < | p> (ren)< | p> < | div> |

Senin, 05 Desember 2016

Lihat Tanda-tanda di Indonesia, Ulama Palestina: “Semoga Kalian yang Dimaksud Rasulullah”

Eramuslim.com â€" Rasulullah pernah mensabdakan bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur. Setelah melihat tanda-tanda yang terjadi di Indonesia, Wakil Ketua Rabithah ‘Ulama Palestina Syaikh Dr. Abu Bakr Al ‘Awawidah menyampaikan harapannya, semoga yang dimaksud Rasulullah itu adalah umat Islam Indonesia.

Sebab bangsa-bangsa lain sudah pernah dipilih Allah untuk menjayakan agama Islam. Arab sudah, Persia sudah, Kurdi sudah, Mamluk sudah, Turki juga sudah.

Berikut ini harapan Syaikh Abu Bakr seperti dikisahkan Ustadz Salim A Fillah di situs pribadinya salimafillah.com pada 13 Juli 2015. Mungkin setelah melihat Aksi 212, tanda-tanda yang dilihat Syaikh Abu Bakr semakin jelas.

ulama-palestina

***

Suatu saat kami sedang duduk di Masjid Jogokariyan, di hadirat Syaikh Dr. Abu Bakr Al ‘Awawidah, Wakil Ketua Rabithah ‘Ulama Palestina. Kami katakan pada beliau, “Ya Syaikh, berbagai telaah menyatakan bahwa persoalan Palestina ini takkan selesai sampai bangsa ‘Arab bersatu. Bagaimana pendapat Anda?”

Beliau tersenyum. “Tidak begitu ya Ukhayya“, ujarnya lembut. “Sesungguhnya Allah memilih untuk menjayakan agamanya ini sesiapa yang dipilihNya di antara hambaNya; Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama dan kejayaan itu.”

“Pada kurun awal”, lanjut beliau, “Allah memilih Bangsa ‘Arab. Dipimpin Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, dan beberapa penguasa Daulah ‘Umawiyah, agama ini jaya. Lalu ketika para penguasa Daulah itu beserta para punggawanya menyimpang, Allahpun mencabut amanah penjayaan itu dari mereka.”

“Di masa berikutnya, Allah memilih bangsa Persia. Dari arah Khurasan mereka datang menyokong Daulah ‘Abbasiyah. Maka penyangga utama Daulah ini, dari Perdana Menterinya, keluarga Al Baramikah, hingga panglima, bahkan banyak ‘Ulama dan Cendikiawannya Allah bangkitkan dari kalangan orang Persia.”

“Lalu ketika Bangsa Persia berpaling dan menyimpang, Allah cabut amanah itu dari mereka; Allah berikan pada orang-orang Kurdi; puncaknya Shalahuddin Al Ayyubi dan anak-anaknya.”

“Ketika mereka juga berpaling, Allah alihkan amanah itu pada bekas-bekas budak dari Asia Tengah yang disultankan di Mesir; Quthuz, Baybars, Qalawun di antaranya. Mereka, orang-orang Mamluk.”

“Ketika para Mamalik ini berpaling, Allah pula memindahkan amanah itu pada Bangsa Turki; ‘Utsman Orthughrul dan anak turunnya, serta khususnya Muhammad Al Fatih.”

“Ketika Daulah ‘Aliyah ‘Utsmaniyah ini berpaling juga, Allah cabut amanah itu dan rasa-rasanya, hingga hari ini, Allah belum menunjuk bangsa lain lagi untuk memimpin penjayaan Islam ini.”

Beliau menghela nafas panjang, kemudian tersenyum. Dengan matanya yang buta oleh siksaan penjara Israel, dia arahkan wajahnya pada kami lalu berkata. “Sungguh di antara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah; yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek”, katanya sedikit tertawa, “Yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin penzhahiran agamanya ini.”

“Dan bukankah Rasulullah bersabda bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka? Dulu para ‘Ulama mengiranya Khurasan, dan Daulah ‘Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam kampanye mereka menggulingkan Daulah ‘Umawiyah. Tapi kini kita tahu; dunia Islam ini membentang dari Maghrib; dari Maroko, sampai Merauke”, ujar beliau terkekeh.

“Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam.”

“Ah, aku sudah melihat tanda-tandanya. Tapi barangkali kami, para pejuang Palestina masih harus bersabar sejenak berjuang di garis depan. Bersabar menanti kalian layak memimpin. Bersabar menanti kalian datang. Bersabar hingga kita bersama shalat di Masjidil Aqsha yang merdeka insyaallah.” (yk/tarbawia)

"

| Lihat | Tanda-tanda | Indonesia, | Ulama | Palestina: | “Semoga | Kalian | yang | Dimaksud | Rasulullah” | Home< | span> | Berita< | Berita | Nasional< | Tanda | tanda | Indonesia | Rasulullah”< | strong>< | span>< | p> | Eramuslim | Rasulullah | pernah | mensabd | bahwa | pembawa | kejayaan | akhir | zaman | datang | arah | Timur | Setelah | melihat | terjadi | Wakil | Ketua | Rabithah | ‘Ulama | Palestina | Syaikh | Bakr | ‘Awawidah | menyampaikan | harapannya | semoga | dimaksud | adalah | umat | Islam | p> Sebab | bangsa | lain | dipilih | Allah | untuk | menjay | agama | Arab | Persia | Kurdi | Mamluk | Turki | juga | p> Berikut | harapan | seperti | dikisahkan | Ustadz | Salim | Fillah | situs | pribadinya | salimafillah | pada | Juli | 2015 | Mungkin | setelah | Aksi | dilihat | semakin | jelas | p> < | p> ***< | p> Suatu | saat | kami | duduk | Masjid | Jogokariyan | hadirat | Kami | beliau | “Ya | berbagai | telaah | menyat | persoalan | takkan | selesai | sampai | ‘Arab | bersatu | Bagaimana | pendapat | Anda | ”< | p> Beliau | tersenyum | “Tidak | begitu | Ukhayya“ | ujarnya | lembut | “Sesungguhnya | memilih | agamanya | sesiapa | dipilihNya | antara | hambaNya; | genapkan | syarat | syaratnya | muli | dengan | p> “Pada | kurun | awal” | lanjut | “Allah | Bangsa | Dipimpin | Khulafaur | Rasyidin | beberapa | penguasa | Daulah | ‘Umawiyah | jaya | Lalu | ketika | para | beserta | punggawanya | menyimpang | Allahpun | mencabut | amanah | penjayaan | p> “Di | masa | berikutnya | Dari | Khurasan | menyokong | ‘Abbasiyah | Maka | penyangga | utama | Perdana | Menterinya | keluarga | Baramikah | panglima | bahkan | banyak | Cendikiawannya | bangkitkan | kalangan | orang | p> “Lalu | berpaling | cabut | berikan | Kurdi; | puncaknya | Shalahuddin | Ayyubi | anak | anaknya | p> “Ketika | alihkan | bekas | budak | Asia | Tengah | disultankan | Mesir; | Quthuz | Baybars | Qalawun | antaranya | Mereka | Mamalik | pula | memindahkan | Turki; | ‘Utsman | Orthughrul | turunnya | serta | khususnya | Muhammad | Fatih | ‘Aliyah | ‘Utsmaniyah | rasa | rasanya | hari | menunjuk | lagi | memimpin | menghela | nafas | panjang | kemudian | Dengan | matanya | buta | oleh | siksaan | penjara | Israel | arahkan | wajahnya | berkata | “Sungguh | besar | menerima | kalianlah; | agak | pendek | berkulit | kecoklatan | berhidung | pesek” | katanya | sedikit | tertawa | “Yang | ditunjuk | penzhahiran | p> “Dan | bukankah | bersabda | bendera | hitam | Dulu | mengiranya | menggun | pemaknaan | dalam | kampanye | menggulingkan | Tapi | kini | tahu; | dunia | membentang | Maghrib; | Maroko | Merauke” | ujar | terkekeh | p> “Maka | sungguh | berharap | kalian | wahai | Muslim | Nusantara | Hari | tugas | menggenapi | agar | layak | peradaban | p> “Ah | tandanya | barangkali | pejuang | masih | harus | bersabar | sejenak | berjuang | garis | depan | Bersabar | menanti | bersama | shalat | Masjidil | Aqsha | merdeka | insyaallah | tarbawia)< | div> |

Lihat Tanda-tanda di Indonesia, Ulama Palestina: “Semoga Kalian yang Dimaksud Rasulullah”

Eramuslim.com â€" Rasulullah pernah mensabdakan bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur. Setelah melihat tanda-tanda yang terjadi di Indonesia, Wakil Ketua Rabithah ‘Ulama Palestina Syaikh Dr. Abu Bakr Al ‘Awawidah menyampaikan harapannya, semoga yang dimaksud Rasulullah itu adalah umat Islam Indonesia.

Sebab bangsa-bangsa lain sudah pernah dipilih Allah untuk menjayakan agama Islam. Arab sudah, Persia sudah, Kurdi sudah, Mamluk sudah, Turki juga sudah.

Berikut ini harapan Syaikh Abu Bakr seperti dikisahkan Ustadz Salim A Fillah di situs pribadinya salimafillah.com pada 13 Juli 2015. Mungkin setelah melihat Aksi 212, tanda-tanda yang dilihat Syaikh Abu Bakr semakin jelas.

ulama-palestina

***

Suatu saat kami sedang duduk di Masjid Jogokariyan, di hadirat Syaikh Dr. Abu Bakr Al ‘Awawidah, Wakil Ketua Rabithah ‘Ulama Palestina. Kami katakan pada beliau, “Ya Syaikh, berbagai telaah menyatakan bahwa persoalan Palestina ini takkan selesai sampai bangsa ‘Arab bersatu. Bagaimana pendapat Anda?”

Beliau tersenyum. “Tidak begitu ya Ukhayya“, ujarnya lembut. “Sesungguhnya Allah memilih untuk menjayakan agamanya ini sesiapa yang dipilihNya di antara hambaNya; Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama dan kejayaan itu.”

“Pada kurun awal”, lanjut beliau, “Allah memilih Bangsa ‘Arab. Dipimpin Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, dan beberapa penguasa Daulah ‘Umawiyah, agama ini jaya. Lalu ketika para penguasa Daulah itu beserta para punggawanya menyimpang, Allahpun mencabut amanah penjayaan itu dari mereka.”

“Di masa berikutnya, Allah memilih bangsa Persia. Dari arah Khurasan mereka datang menyokong Daulah ‘Abbasiyah. Maka penyangga utama Daulah ini, dari Perdana Menterinya, keluarga Al Baramikah, hingga panglima, bahkan banyak ‘Ulama dan Cendikiawannya Allah bangkitkan dari kalangan orang Persia.”

“Lalu ketika Bangsa Persia berpaling dan menyimpang, Allah cabut amanah itu dari mereka; Allah berikan pada orang-orang Kurdi; puncaknya Shalahuddin Al Ayyubi dan anak-anaknya.”

“Ketika mereka juga berpaling, Allah alihkan amanah itu pada bekas-bekas budak dari Asia Tengah yang disultankan di Mesir; Quthuz, Baybars, Qalawun di antaranya. Mereka, orang-orang Mamluk.”

“Ketika para Mamalik ini berpaling, Allah pula memindahkan amanah itu pada Bangsa Turki; ‘Utsman Orthughrul dan anak turunnya, serta khususnya Muhammad Al Fatih.”

“Ketika Daulah ‘Aliyah ‘Utsmaniyah ini berpaling juga, Allah cabut amanah itu dan rasa-rasanya, hingga hari ini, Allah belum menunjuk bangsa lain lagi untuk memimpin penjayaan Islam ini.”

Beliau menghela nafas panjang, kemudian tersenyum. Dengan matanya yang buta oleh siksaan penjara Israel, dia arahkan wajahnya pada kami lalu berkata. “Sungguh di antara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah; yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek”, katanya sedikit tertawa, “Yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin penzhahiran agamanya ini.”

“Dan bukankah Rasulullah bersabda bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka? Dulu para ‘Ulama mengiranya Khurasan, dan Daulah ‘Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam kampanye mereka menggulingkan Daulah ‘Umawiyah. Tapi kini kita tahu; dunia Islam ini membentang dari Maghrib; dari Maroko, sampai Merauke”, ujar beliau terkekeh.

“Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam.”

“Ah, aku sudah melihat tanda-tandanya. Tapi barangkali kami, para pejuang Palestina masih harus bersabar sejenak berjuang di garis depan. Bersabar menanti kalian layak memimpin. Bersabar menanti kalian datang. Bersabar hingga kita bersama shalat di Masjidil Aqsha yang merdeka insyaallah.” (yk/tarbawia)

"

| Lihat | Tanda-tanda | Indonesia, | Ulama | Palestina: | “Semoga | Kalian | yang | Dimaksud | Rasulullah” | Home< | span> | Berita< | Berita | Nasional< | Tanda | tanda | Indonesia | Rasulullah”< | strong>< | span>< | p> | Eramuslim | Rasulullah | pernah | mensabd | bahwa | pembawa | kejayaan | akhir | zaman | datang | arah | Timur | Setelah | melihat | terjadi | Wakil | Ketua | Rabithah | ‘Ulama | Palestina | Syaikh | Bakr | ‘Awawidah | menyampaikan | harapannya | semoga | dimaksud | adalah | umat | Islam | p> Sebab | bangsa | lain | dipilih | Allah | untuk | menjay | agama | Arab | Persia | Kurdi | Mamluk | Turki | juga | p> Berikut | harapan | seperti | dikisahkan | Ustadz | Salim | Fillah | situs | pribadinya | salimafillah | pada | Juli | 2015 | Mungkin | setelah | Aksi | dilihat | semakin | jelas | p> < | p> ***< | p> Suatu | saat | kami | duduk | Masjid | Jogokariyan | hadirat | Kami | beliau | “Ya | berbagai | telaah | menyat | persoalan | takkan | selesai | sampai | ‘Arab | bersatu | Bagaimana | pendapat | Anda | ”< | p> Beliau | tersenyum | “Tidak | begitu | Ukhayya“ | ujarnya | lembut | “Sesungguhnya | memilih | agamanya | sesiapa | dipilihNya | antara | hambaNya; | genapkan | syarat | syaratnya | muli | dengan | p> “Pada | kurun | awal” | lanjut | “Allah | Bangsa | Dipimpin | Khulafaur | Rasyidin | beberapa | penguasa | Daulah | ‘Umawiyah | jaya | Lalu | ketika | para | beserta | punggawanya | menyimpang | Allahpun | mencabut | amanah | penjayaan | p> “Di | masa | berikutnya | Dari | Khurasan | menyokong | ‘Abbasiyah | Maka | penyangga | utama | Perdana | Menterinya | keluarga | Baramikah | panglima | bahkan | banyak | Cendikiawannya | bangkitkan | kalangan | orang | p> “Lalu | berpaling | cabut | berikan | Kurdi; | puncaknya | Shalahuddin | Ayyubi | anak | anaknya | p> “Ketika | alihkan | bekas | budak | Asia | Tengah | disultankan | Mesir; | Quthuz | Baybars | Qalawun | antaranya | Mereka | Mamalik | pula | memindahkan | Turki; | ‘Utsman | Orthughrul | turunnya | serta | khususnya | Muhammad | Fatih | ‘Aliyah | ‘Utsmaniyah | rasa | rasanya | hari | menunjuk | lagi | memimpin | menghela | nafas | panjang | kemudian | Dengan | matanya | buta | oleh | siksaan | penjara | Israel | arahkan | wajahnya | berkata | “Sungguh | besar | menerima | kalianlah; | agak | pendek | berkulit | kecoklatan | berhidung | pesek” | katanya | sedikit | tertawa | “Yang | ditunjuk | penzhahiran | p> “Dan | bukankah | bersabda | bendera | hitam | Dulu | mengiranya | menggun | pemaknaan | dalam | kampanye | menggulingkan | Tapi | kini | tahu; | dunia | membentang | Maghrib; | Maroko | Merauke” | ujar | terkekeh | p> “Maka | sungguh | berharap | kalian | wahai | Muslim | Nusantara | Hari | tugas | menggenapi | agar | layak | peradaban | p> “Ah | tandanya | barangkali | pejuang | masih | harus | bersabar | sejenak | berjuang | garis | depan | Bersabar | menanti | bersama | shalat | Masjidil | Aqsha | merdeka | insyaallah | tarbawia)< | div> |

Minggu, 27 November 2016

Fidel Castro Teken Manifesto 'Mendukung Palestina'

TRIBUNJAMBI.COM, HAVANA - Fidel Castro, mantan presiden Kuba, menanda-tangani manifesto internasional 'mendukung Palestina', dan meminta Israel menghormati semua resolusi PBB untuk menarik diri dari Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Jerusalem Timur.

Castro, yang akan berusia 88 tahun pekan depan, membubuhkan tanda tangan bersama sejumlah intelektual dan politisi di atas dokumen 'Demi Membela Palestina'.

Surat kabar Granma melaporkan orang-orang beken yang ikut menanda-tangani adalah Presiden Bolivia Evo Morales, pemenang Nobel Perdamaian asal Argentina Adolfo Perez Esquivel, penari Kuba Alicia Alonso, dan penulis Amerika Alice Walker.

Manifesto ini dipromosikan Jaringan Pembela Kemanusiaan, yang mencakup beberapa kelompok di Amerika Latin.

Castro, dan semua penanda-tangan manifesto, menuntut pemerintah di seluruh dunia menekan Israel agar menghormati Resolusi 242 Dewan Keamanan PBB. Resolusi ini dikeluarkan setelah Perang Enam Hari tahun 1967.

Resolusi menuntut Israel menarik diri dari semua wilayah yang diduduku selama konflik.

Dalam beberapa pekan terakhir, Amerika Latin berada di garis depan dalam pengecaman terhadap serangan Israel ke Jalur Gaza. Hampir seluruh negara Amerika Latin menawarkan dukungan kepada Palestina.

Castro sebelumnya menuduh Israel terlibat dalam bentuk baru fasisme, dengan tidak memperlakukan Palestina sebagai manusia, dan melakukan pembunuhan besar-besaran.

Kecaman keras juga disampaikan Presiden Brasil Dilma Rouseff dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Tidak hanya mengecam, keduanya -- bersama Cile, Ekuador, Peru, dan El Salvador -- menarik duta besarnya dari Israel.

Di Bolivia, ribuan orang memprotes dan mengecam Israel, tapi pemerintahnya masih mempertahankan hubungan dengan negara Yahudi itu.

"

| Fidel | Castro | Teken | Manifesto | Mendukung | Palestina | TRIBUNJAMBI.COM, | HAVANA | Castro, | mantan | presiden | Kuba, | menanda-tangani | manifesto | internasional | mendukung | Palestina, | meminta | Israel | menghormati | semua | resolusi | untuk | menarik | diri | dari | Jalur | Gaza, | Tepi | Barat, | Jerusalem | Timur. Castro, | yang | akan | berusia | tahun | pekan | depan, | membubuhkan | tanda | tangan | bersama | sejumlah | intelektual | politisi | atas | dokumen | Demi | Membela | Palestina. Surat | kabar | Granma | melaporkan | orang-orang | beken | ikut | adalah | Presiden | Bolivia | Morales, | pemenang | Nobel | Perdamaian | asal | Argentina | Adolfo | Perez | Esquivel, | penari | Kuba | Alicia | Alonso, | penulis | Amerika | Alice | Walker. Manifesto | dipromosikan | Jaringan | Pembela | Kemanusiaan, | mencakup | beberapa | kelompok | Latin. Castro, | penanda-tangan | manifesto, | menuntut | pemerintah | seluruh | dunia | menekan | agar | Resolusi | Dewan | Keamanan | PBB. | dikeluarkan | setelah | Perang | Enam | Hari | 1967. Resolusi | wilayah | diduduku | selama | konflik. Dalam | terakhir, | Latin | berada | garis | depan | dalam | pengecaman | terhadap | serangan | Gaza. | Hampir | negara | menawarkan | dukungan | kepada | Palestina. Castro | sebelumnya | menuduh | terlibat | bentuk | baru | fasisme, | dengan | tidak | memperlakukan | sebagai | manusia, | melakukan | pembunuhan | besar-besaran. Kecaman | keras | juga | disampaikan | Brasil | Dilma | Rouseff | Venezuela | Nicolas | Maduro. | Tidak | hanya | mengecam, | keduanya | Cile, | Ekuador, | Peru, | Salvador | duta | besarnya | Israel. Di | Bolivia, | ribuan | orang | memprotes | mengecam | Israel, | tapi | pemerintahnya | masih | mempertahankan | hubungan | Yahudi | itu. |

Senin, 12 Desember 2016

Paduan Suara Palestina Tampil dalam Konser Natal di Indonesia

Kelompok paduan suara Bethlehem Bible College yang berasal dari kota Bethlehem, Palestina, tampil dalam konser Natal di Jakarta dan Bali pada 11-15 Desember 2016.

Di Jakarta, kelompok ini tampil sepanjang hari Minggu (11/12) dan Rabu di beberapa tempat, termasuk penampilan perdana di Gereja Bethel Indonesia Glow Fellowship Centre.

Dalam sambutan lewat rekaman video sebelum konser dimulai, pemimpin Gereja Bethel Glow Fellowship Center, Pendeta Gilbert Lumoindong, meminta maaf kepada sekitar 2.000 jemaat yang hadir karena ia masih berada di Australia. Pendeta Gilbert menyeru seluruh jemaat agar bersyukur karena kesediaan kelompok paduan suara tersebut ke Indonesia.

"Sungguh kita percaya bahwa pelayanan mereka yang kita beri nama Palestinian Christmas Concert. Mereka menyanyikan lagu-lagu Natal dalam bahasa Arab. Saya percaya pasti jadi berkat," ujarnya.

Bethlehem Bible College didirikan sejak 1979 dan merupakan satu-satunya kampus Injil di Palestina. Acara ini tidak saja bertujuan menambah informasi tentang kehidupan warga Palestina yang sangat beragam, tetapi juga toleransi dan keharmonisan yang terjalin di antara mereka.

Penampilan paduan suara dari Bethlehem Bible College di kota Bethlehem, Palestina, di depan jemaat misa Gereja Bethel Indonesia Glow Fellowship Center, Jakarta (11/12). (VOA/Fathiyah Wardah)

Penampilan paduan suara dari Bethlehem Bible College di kota Bethlehem, Palestina, di depan jemaat misa Gereja Bethel Indonesia Glow Fellowship Center, Jakarta (11/12). (VOA/Fathiyah Wardah)

Dr. Bishara Awad, pendiri Bethlehem Bible College, mengatakan sangat senang bisa mengunjungi Indonesia. Menurutnya, meskipun komunitas Kristen di Palestina sangat kecil, namun mereka memiliki hubungan yang sangat harmonis dengan kaum Muslim.

"Di Bethlehem, kami mempunyai hubungan sangat baik antara komunitas Kristen dan Muslim. Ada harmoni sangat indah di antara kami," ujarnya.

"Saya berikan contoh, walikota Bethlehem harus selalu dijabat orang Kristen meskipun dia tidak mendapat semua suara dukungan. Tapi sesuai aturan berlaku, dia harus orang Kristen. Warga Bethlehem menerima itu dan tidak ada masalah antara komunitas Muslim dan Kristen. Meski kaum Kristiani sangat minoritas, kami memiliki hubungan sangat baik."

Jemaat yang hadir sangat antusias menikmati penampilan kelompok paduan suara Bethlehem Bible College dan banyak yang merekam konser istimewa itu.

Dalam sambutannya sebelum konser digelar, Awad menjelaskan banyak orang tidak paham bahwa ada juga warga Palestina yang beragama Kristen. Dia mencontohkan bagaimana seorang pendeta asal Amerika Serikat yang baru mengetahui hal ini sepekan setelah berkunjung kePalestina.

Untuk itu, Awad mengajak sekitar dua ribu jemaat yang hadir dalam misa Minggu itu untuk berkunjung ke Bethlehem agar mengetahui lebih banyak hal istimewa di tanah suci bagi tiga agama tertua di dunia itu.

Awad mengatakan paduan suara dari kampusnya sudah berkeliling ke banyak negara, yakni Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Norwegia, dan Afrika Selatan.

Saur Hasugian, Rektor Sekolah Tinggi Teologi Global Glow Indonesia mengatakan pihaknya sudah bekerjasama dengan Bethlehem Bible College selama lima tahun, khusus untuk pembelajaran Bahasa Arab. Kerjasama itu dalam bentuk pertukaran dosen.

"Budaya mereka juga kita akan pelajari, budaya kita juga akan mereka pelajari. Sehingga Indonesia yang mendukung Palestina merdeka, kita juga berharap umat Kristen ada di Indonesia bersama-sama untuk mendukung kehidupan bersama di Palestina, juga mendukung kehidupan bersama ada di Indonesia," ujarnya.

"

| Paduan | Suara | Palestina | Tampil | dalam | Konser | Natal di Indonesia | JAKARTA | â€" < | span>Kelompok | paduan | suara | Bethlehem | Bible | College | yang | berasal | kota | tampil | konser | Natal | Jakarta | Bali | pada | Desember | 2016 | p> Di | kelompok | sepanjang | hari | Minggu | Rabu | beberapa | tempat | termasuk | penampilan | perdana | Gereja | Bethel | Indonesia | Glow | Fellowship | Centre | p> Dalam | sambutan | lewat | rekaman | video | dimulai | pemimpin | Center | Pendeta | Gilbert | Lumoindong | meminta | maaf | kepada | jemaat | hadir | karena | masih | berada | Australia | menyeru | seluruh | agar | bersyukur | kesediaan | tersebut | p> Sungguh | percaya | bahwa | pelayanan | beri | nama | Palestinian | Christmas | Concert | Mereka | menyanyikan | lagu | bahasa | Arab | Saya | pasti | jadi | berkat | ujarnya | p> Bethlehem | didirikan | sejak | 1979 | merup | satu | satunya | kampus | Injil | Acara | bertujuan | menambah | informasi | tentang | kehidupan | warga | sangat | beragam | juga | toleransi | keharmonisan | terjalin | antara | p> Penampilan | depan | misa | (VOA | Fathiyah | Wardah)< | p> Dr | Bishara | Awad | pendiri | mengat | senang | mengunjungi | Menurutnya | meskipun | komunitas | Kristen | kecil | memiliki | hubungan | harmonis | dengan | kaum | Muslim | kami | mempunyai | baik | harmoni | indah | p> Saya | berikan | contoh | walikota | harus | dijabat | orang | mendapat | semua | dukungan | Tapi | sesuai | aturan | berlaku | Warga | menerima | masalah | Meski | Kristiani | minoritas | p> Jemaat | antusias | menikmati | banyak | istimewa | p> | player< | span>< | button>< | div> Dalam | sambutannya | digelar | menjelaskan | paham | beragama | mencontohkan | bagaimana | seorang | pendeta | asal | Amerika | Serikat | baru | mengetahui | sepekan | setelah | berkunjung | kePalestina | p> Untuk | mengajak | ribu | untuk | lebih | tanah | suci | bagi | tiga | agama | tertua | dunia | p> Awad | kampusnya | berkeliling | negara | yakni | Inggris | Jerman | Norwegia | Afrika | Selatan | p> Saur | Hasugian | Rektor | Sekolah | Tinggi | Teologi | Global | pihaknya | bekerjasama | selama | lima | tahun | khusus | pembelajaran | Bahasa | Kerjasama | bentuk | pertukaran | dosen | p> Budaya | pelajari | budaya | mendukung | merdeka | berharap | umat | bersama | sama | p> |